Menjadi Trainer

Menjadi Trainer

Dalam sejarah sepak terjang saya mulai dari masa sekolah sampai kuliah baru kali ini didaulat sebagai Trainer. Bukan yang abal-abal lho, tapi benar-benar as a professional dan ketemunya dengan orang-orang hebat.

Pengalaman pertama saya adalah mengajar ilmu yang sudah saya dapatkan sertifikasinya, yaitu ITIL V3.  Audiencenya adalah internal kantor (FYI, ada Manajer juga). Ha ha ha….ketawa doank tidak akan mengubah apa-apa.

Awalnya bukan saya sih yang diminta untuk jadi trainer, tapi berhubung yang diminta tidak bisa jadilah saya mengajukan diri. Bukan mau unjuk gigi sih, tapi lebih tepatnya belajar punya mental baja. Belajar untuk berdiri di hadapan orang banyak untuk menyampaikan ilmu pada mereka. Ini bukan perkara gampang lho. Apalagi untuk anak ingusan macam saya yang punya pengalaman di dunia IT baru kemaren sore. Belum apa-apalah dibanding orang yang saya ajar.

Taukah kamu? Ini benar-benar luar biasa. Pengalaman yang membuat saya bersyukur pada saat itu mengajukan diri. Mengajar itu mudah? Tentu saja jika kamu punya cukup banyak ilmu dan pengalaman untuk dibagikan. Apakah bagi saya mudah? Sangat tidak mudah. Yang saya punya hanya keberanian dan keinginan untuk mencicipi rasanya jadi Guru.

Apa yang saya lakukan? Mati-matian belajar dari buku yang saya punya. Mengumpulkan sedikit pengalaman dari proyek yang saya tangani. Saya harus lembur demi mempersiapkan bahannya. Bahkan tidur dengan fotokopian soal-soal examnya.

ha ha ha…konyol. Tapi toh saya tidak mati konyol di hari H.

yah…meskipun saya tetap kalah dalam hal pengalaman dan kemampuan untuk memberikan analogi yang tepat pada mereka. Setidaknya saya sudah berhasil menyampaikan ilmu itu dengan cara saya. Yang paling penting saya siap dengan bahan ajar saya dan paham dengan apa yang saya sampaikan. Itu nyawanya, Kawan.

Pastinya ini pengalaman berharga untuk saya. Lain kali kalau disuruh ngajar lagi saya sudah tau apa yang harus saya lakukan

Tips dari saya untuk para pemula :

  1. Harus PERCAYA DIRI. Jangan takut ketika harus menghadapi orang yang lebih senior. Cara mendapatkan percaya diri ini ketika kamu kaget dengan audiencemu adalah MENGENALI mereka. Sisihkan waktu untuk berkenalan dan mengetahui latar belakang mereka. Kalau punya kesempatan untuk tau daftar peserta sebelum hari H, mungkin bisa cari informasi dulu tentang orang-orang tersebut. Lebai? Tentu saja tidak. Kita harus tau medan pertempuran sebelum mengantarkan nyawa (lho?).
  2. KUASAI materi yang kamu ajar. sebaiknya materi itu kamu yang buat sendiri. Saya pernah punya pengalaman menyampaikan training dimana materinya bukan saya yang buat. Benar-benar luar biasa paniknya. Luar biasanya juga lemburnya. tapi ingat Allah SWT selalu menghargai usaha hamba-Nya. Selama kamu mau berusaha, akan ada jalan. Sebanyak halaman yang kamu baca, sebanyak itu pula kamu punya perisai untuk menghadapi sejuta pertanyaan dari wajah-wajah yang merasa lebih mengerti dari kamu. Semakin kamu bertanya-tanya pada saat membaca materi tersebut, kamu akan semakin paham dengan isi kepala-kepala itu ketika mereka mendengarkan kamu.
  3. TENANG dan SANTAI. Untuk para pemula ini agak sulit. Oleh karena itu, jangan hanya terpaku pada materi. Ajak audience untuk berinteraksi, entah hanya sekedar lelucon atau meminta mereka untuk berbagi pengalaman. Poin ketiga ini akan mudah dilakukan jika kamu sudah menggenggam poin pertama dan kedua. Saya pernah punya pengalaman harus menyampaikan materi disaat saya belum siap untuk melakukannya. Benar-benar kacau dan monoton. Yang ada dipikiran saya adalah bagaimana untuk sampai pada slide terakhir bagaimanapun caranya. Panik? Tentu saja. Kamu benar-benar tidak bisa membohongi audience ketika kamu tidak menguasai materi yang kamu sampaikan. Kamu benar-benar kehilangan ide untuk improvisasi, terpaku pada slide, dan mulai berkomunikasi satu arah. Tidak perduli dengan wajah yang berkerut karena bingung dan wajah yang mulai jengah sambil memencet-mencet handphonenya. Satu hal yang berhasil membuat saya bertahan adalah saya pernah berhasil sebelumnya dan untuk audience yang lebih besar. Saya kecewa pada diri sendiri? Tentu saja. Tapi, pengalaman akan membuat kamu belajar dan terus belajar untuk menjadi lebih baik.

Saya baru punya tiga poin ini. Mudah-mudahan dengan bertambahnya pengalaman saya, lebih banyak tips yang bisa saya berikan. So, jangan pelit ilmu ya. Berbagi pada orang lain akan membuat ilmu yang kita punya semakin kaya.

~Trainer muda yang ingin terus belajar ;P

Advertisement

2 Responses »

    • Hehe..yuk sama-sama belajar Bro.
      Yang penting kumpulin ilmu dan niat aja sih. Bisa tuh di temu kangen SUPER berikutnya kita sharing-sharing ilmu…:P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s