hm…
ceritanya panjang,
sampai duduk di bangku SMP saya tidak pernah tahu kalau memakai jilbab itu WAJIB hukumnya bagi wanita yang sudah baligh.
suatu hari guru agama saya menyinggung-nyinggung soal jilbab. beliau menjelaskan surat An-Nuur : 31
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (An-Nuur:31)
Saya tidak bisa berkata apa-apa. itu jelas-jelas benar. Mutlak ada di Al-Qur’an. tidak bisa membantah.
namun, mungkin hati ini masih tertutup sehingga saya hanya mengiyakan dan tidak melaksanakan.
kemudian, sebuah keputusan muncul dari Uni saya. keputusan yang membuatnya harus berjuang keras. Sebuah keputusan yang waktu itu membuat saya kagum padanya. beliau mengenakan jilbab. Rapih….
waktu itu muncul protes di rumah. kata-kata yang selama ini menjadi momok seorang gadis memakai jilbab.
” kamu masih muda, kalau ditutupi susah dapat suami. susah dapat pekerjaan. nanti juga dibuka lagi. lebih baik ga usah pake sekalian “
Oke…..saat itu saya surut. saya masih lemah……
Uni yang dengan penuh perjuangan itu, mulai sering mengajak saya berdiskusi. tentang kewajiban berjilbab, tentang betapa bahagianya ia ketika mengenakan kain di kepalanya, dan betapa ia merasa dihargai dengan pakaian rapih oleh preman-preman yang sering mengganggunya.
Saya…..mulai memikirkan. Menimang-nimang…..
sampai suatu hari, saya berada di depan cermin dan mengambil jilbab milik uni dan mengenakannya.
entah kesejukan darimana membuat saya merasa sangat nyaman. Kenyamanan itu memaku saya tetap di depan cermin dan menatap wajah saya.
tampak berkilauan……
kemudian saya berkata pada diri sendiri,
” saya harus memakai jilbab “
namun, memang setan pintar bermain kata.
” sudah, waktu SMA saja ntar “
Kemudian saya terdiam.
sekali lagi saya setuju dengan setan.
lalu, sebelum kelulusan SMP, tepatnya saya lupa ( ada di diary lama saya yang tersimpan manis di laci kamar di rumah ), saya memutuskan dengan tegas hari itu.
” saya harus pakai jilbab hari ini “
kemudian, saya meraih jilbab milik Uni saya dan memakainya keluar rumah. hm…waktu itu perpisahan TK adik saya ( Diska ).
insiden itu membuat saya harus menelan pil pahit yang sama dengan uni.
hmm….begini rasanya ternyata. berjuang untuk sesuatu yang kita yakini benar dan sekuat tenaga mempertahankannya.
memang pertolongan Allah SWT tidak pernah luput, saya mendapat kemudahan dan persetujuan tidak cukup lama.
kesan pertama memakai jilbab satu hari penuh waktu itu :
nyaman sekali…
meskipun orang-orang bilang panas, saya tidak merasa begitu….
Lega sekali….
karena saya yakin saya sudah melakukan hal yang benar….
Anggun…
karena jujur, waktu itu saya merasa dihormati oleh kaum pria ( hehehehe….abisan dikasi salam mulu )
padahal banyak juga yang cuma iseng-iseng doank. tapi karena waktu itu benar-benar hari bersejarah, saya merasa semuanya begitu istimewa. begitulah, Allah SWT menunjukkan sedikit kenikmatan ketika kita menunjukkan kepatuhan dan kecintaan pada-Nya.
Pokoknya, hari itu saya ingin memakai jilbab di kepala saya hingga tertidur. enggan sekali melepaskannya.
sedikit bocoran :
mungkin dengan kemajuan teknologi dan informasi banyak wanita yang telah mengetahui kewajiban memakai jilbab, namun sedikit yang ingin memulainya.
jika tidak pernah berusaha untuk memulai. meskipun keinginan sudah cukup kuat, kita akan kalah.
ulurkan jilbab ke dadamu, saudariku…….
hari ini!
kau akan mengerti mengapa aku masih mengenakannya hingga hari ini dan seumur hidupku…….