Kenapa Komunikasi selalu Jadi Topik Penting?

Kenapa Komunikasi selalu Jadi Topik Penting?

Komunikasi adalah “suatu proses dalam mana seseorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi, dan masyarakat menciptakan, dan menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain” (Brent D & Steward, 2006)

Sesuai dengan pengertiannya dalam kata komunikasi ini ada pertukaran informasi. Apa itu informasi? Sebuah fakta yang kita dapatkan dari sebuah sumber mengenai sesuatu.

Intinya berkomunikasi adalah saling bertukar fakta. Lalu bagaimana dengan pendapat? Itulah kenapa ada istilah bergosip :P

Kata-kata komunikasi ini selalu muncul dalam konteks akademis dan professional. Kenapa? Karena komunikasi pada dasarnya membentuk ilmu yang kemudian dapat digunakan untuk kemaslahatan umum.

Kita coba beberapa analogi dari sudut pandang yang berbeda.

Akademisi

Berkomunikasi adalah cara untuk menyampaikan ilmu antara pengajar dan pelajar. Tanpa komunikasi proses belajar dan mengajr tentunya tidak dapat berlangsung dengan baik. Satu pertanyaan, apakah Anda bisa menyebut sebuah kelas adalah kelas jika tidak ada komunikasi.

 

Profesional

Berkomunikasi merupakan cara untuk meraih keuntungan bagi perusahaan. Betapa tidak, tanpa berkomunikasi kita tidak bisa memahami keinginan pelanggan. Tanpa komunikasi tidak ada istilah proyek dan tender.

Bicara soal proyek, saya sedang menyukai topik Project Management. Salah satu framework yang cukup terkenal adalah PRINCE2 (Projects in a Controlled Environment) yang merupakan besutan dari OGC (Office of Governance Commerce).

PRINCE2 ini punya themes yang terdiri dari :

  • Business Case
  • Organization
  • Quality
  • Plans
  • Risk
  • Change
  • Progress

Lupakan dulu istilah diatas dan maksudnya apa. Saya mendapat kesimpulan bahwa poin-poin diatas tidak terlepas dari istilah meeting, board, dan communicate.

Sebuah proyek dimulai dari komunikasi, berjalan dengan proses komunikasi, terkontrol oleh komunikasi, dan berakhir dengan komunikasi. Empat kali sudah si komunikasi ini masuk dalam pembicaraan kita.

Ini menunjukkan ia sangat penting kawan. Semua bisa saja tau apa arti dari komunikasi dan tau bagaimana cara melakukannya, tetapi sedikit yang benar-benar menerapkannya dalam pelaksanaan proyek. Akan menyeramkan bukan ketika kamu bekerja dengan seorang gerilyawan yang datang dan pergi tanpa memberikan informasi apa saja yang belum, sudah, atau akan ia lakukan.

 

Sekarang saya akan coba real case di salah satu proyek yang saya tangani.

Dalam konsep ITSM (IT Service Management), kita mengenal proses dan fungsi. Intinya, proses adalah kegiatan dan fungsi adalah organisasinya. ITIL V2 yang merupakan framework untuk ITSM mengenal 10 proses dan 1 fungsi.

Mereka tentunya menjalankan tugasnya untuk mendeliver value untuk pelanggan. Tetapi ada sesuatu yang hilang, ketika Service Desk ditanyai apakah ia memahami SLA (Service Level Agreement), mereka agak kebingungan menjawabnya. How come Service Desk yang jelas-jelas sebagai garda depan alias cermin sebuah layanan TIK tidak memahami persetujuan yang dibuat penyedia layanan dengan penggunanya? Bahkan mereka sempat curcol kalau mereka tidak mendapatkan update mengenai perubahan Service Catalog (stt…ini menu layanan IT kawan) dan justru beberapa kali mengetahuinya dari pengguna ketika layanan tersebut ternyata di-request. Astagaaa….>.<

Apakah mereka tidak mengetahui mengenai konsep komunikasi? Tentu saja tidak. Tetapi memang kesadaran dan tanggung jawab untuk berkomunikasi ini yang belum diterapkan dengan baik. Service Level Management tidak pernah mengkomunikasi SLA dengan baik pada Service Desk karena memang belum ada pemahaman bahwa mereka memiliki kewajiban untuk itu. Sementara Service Desk juga tidak mengetahui hak-hak mereka dan menerima kondisi yang harus mereka hadapi itu.

Kawan, sebagus apapun sistem dan framework yang kita gunakan jika tidak ada komunikasi antara satu kotak dengan kotak yang lainnya maka dalam pelaksanaannya akan bermunculan kendala-kendala yang lama-lama akan mengurangi value yang akan kita berikan pada pelanggan. Tujuan utama dari sebuah layanan adalah agar ia dapat memberikan value pada pelanggan/pengguna.

Nanti di lain waktu akan saya bahas mengenai konsep value ini.

Sebagai kesimpulan, kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik merupakan suatu keahlian yang patut untuk dipelajari. Komunikasi akan selalu jadi topik penting dalam pelaksanaan kegiatan organisasi. Pada dasarnya IT merupakan pendukung bisnis, bukan menjadi jade of all trade dan dianggap sebagai obat mujarab atas permasalahan yang kita hadapi.

Akan sangat rugi jika kita bahkan tidak mengetahui kesulitan yang kita hadapi…

 

Menjadi Trainer

Menjadi Trainer

Dalam sejarah sepak terjang saya mulai dari masa sekolah sampai kuliah baru kali ini didaulat sebagai Trainer. Bukan yang abal-abal lho, tapi benar-benar as a professional dan ketemunya dengan orang-orang hebat.

Pengalaman pertama saya adalah mengajar ilmu yang sudah saya dapatkan sertifikasinya, yaitu ITIL V3.  Audiencenya adalah internal kantor (FYI, ada Manajer juga). Ha ha ha….ketawa doank tidak akan mengubah apa-apa.

Awalnya bukan saya sih yang diminta untuk jadi trainer, tapi berhubung yang diminta tidak bisa jadilah saya mengajukan diri. Bukan mau unjuk gigi sih, tapi lebih tepatnya belajar punya mental baja. Belajar untuk berdiri di hadapan orang banyak untuk menyampaikan ilmu pada mereka. Ini bukan perkara gampang lho. Apalagi untuk anak ingusan macam saya yang punya pengalaman di dunia IT baru kemaren sore. Belum apa-apalah dibanding orang yang saya ajar.

Taukah kamu? Ini benar-benar luar biasa. Pengalaman yang membuat saya bersyukur pada saat itu mengajukan diri. Mengajar itu mudah? Tentu saja jika kamu punya cukup banyak ilmu dan pengalaman untuk dibagikan. Apakah bagi saya mudah? Sangat tidak mudah. Yang saya punya hanya keberanian dan keinginan untuk mencicipi rasanya jadi Guru.

Apa yang saya lakukan? Mati-matian belajar dari buku yang saya punya. Mengumpulkan sedikit pengalaman dari proyek yang saya tangani. Saya harus lembur demi mempersiapkan bahannya. Bahkan tidur dengan fotokopian soal-soal examnya.

ha ha ha…konyol. Tapi toh saya tidak mati konyol di hari H.

yah…meskipun saya tetap kalah dalam hal pengalaman dan kemampuan untuk memberikan analogi yang tepat pada mereka. Setidaknya saya sudah berhasil menyampaikan ilmu itu dengan cara saya. Yang paling penting saya siap dengan bahan ajar saya dan paham dengan apa yang saya sampaikan. Itu nyawanya, Kawan.

Pastinya ini pengalaman berharga untuk saya. Lain kali kalau disuruh ngajar lagi saya sudah tau apa yang harus saya lakukan

Tips dari saya untuk para pemula :

  1. Harus PERCAYA DIRI. Jangan takut ketika harus menghadapi orang yang lebih senior. Cara mendapatkan percaya diri ini ketika kamu kaget dengan audiencemu adalah MENGENALI mereka. Sisihkan waktu untuk berkenalan dan mengetahui latar belakang mereka. Kalau punya kesempatan untuk tau daftar peserta sebelum hari H, mungkin bisa cari informasi dulu tentang orang-orang tersebut. Lebai? Tentu saja tidak. Kita harus tau medan pertempuran sebelum mengantarkan nyawa (lho?).
  2. KUASAI materi yang kamu ajar. sebaiknya materi itu kamu yang buat sendiri. Saya pernah punya pengalaman menyampaikan training dimana materinya bukan saya yang buat. Benar-benar luar biasa paniknya. Luar biasanya juga lemburnya. tapi ingat Allah SWT selalu menghargai usaha hamba-Nya. Selama kamu mau berusaha, akan ada jalan. Sebanyak halaman yang kamu baca, sebanyak itu pula kamu punya perisai untuk menghadapi sejuta pertanyaan dari wajah-wajah yang merasa lebih mengerti dari kamu. Semakin kamu bertanya-tanya pada saat membaca materi tersebut, kamu akan semakin paham dengan isi kepala-kepala itu ketika mereka mendengarkan kamu.
  3. TENANG dan SANTAI. Untuk para pemula ini agak sulit. Oleh karena itu, jangan hanya terpaku pada materi. Ajak audience untuk berinteraksi, entah hanya sekedar lelucon atau meminta mereka untuk berbagi pengalaman. Poin ketiga ini akan mudah dilakukan jika kamu sudah menggenggam poin pertama dan kedua. Saya pernah punya pengalaman harus menyampaikan materi disaat saya belum siap untuk melakukannya. Benar-benar kacau dan monoton. Yang ada dipikiran saya adalah bagaimana untuk sampai pada slide terakhir bagaimanapun caranya. Panik? Tentu saja. Kamu benar-benar tidak bisa membohongi audience ketika kamu tidak menguasai materi yang kamu sampaikan. Kamu benar-benar kehilangan ide untuk improvisasi, terpaku pada slide, dan mulai berkomunikasi satu arah. Tidak perduli dengan wajah yang berkerut karena bingung dan wajah yang mulai jengah sambil memencet-mencet handphonenya. Satu hal yang berhasil membuat saya bertahan adalah saya pernah berhasil sebelumnya dan untuk audience yang lebih besar. Saya kecewa pada diri sendiri? Tentu saja. Tapi, pengalaman akan membuat kamu belajar dan terus belajar untuk menjadi lebih baik.

Saya baru punya tiga poin ini. Mudah-mudahan dengan bertambahnya pengalaman saya, lebih banyak tips yang bisa saya berikan. So, jangan pelit ilmu ya. Berbagi pada orang lain akan membuat ilmu yang kita punya semakin kaya.

~Trainer muda yang ingin terus belajar ;P

Medan Perang

Medan Perang

Di postingan sebelumnya, saya pernah bilang ingin mendapatkan medan perang dimana saya bisa mengasah pedang dan memperbaharui perisai saya. Hehe…saya mendapatkannya kawan.

 

Sebuah Medan Perang yang begitu dinamis…penuh dengan intrik dan perubahan strategi. Membuat saya belajar begitu banyak jalan tikus dan tempat persembunyian. Disana saya mengasah pedang dan memperbaharui perisai saya. Menjadi kuat dan semakin kuat….

 

Terima kasih Ya Rabb!

Terima kasih Mami dan Papi!

Terima kasih Uni!

Terima kasih untuk semua orang yang mendukung Saya untuk pindah ke medan perang ini…

Terima kasih untuk Komandan Pasukan yang begitu brilliant…Terima kasih juga karena telah menemukan saya…

 

Sekarang…

Saya terus berlatih…bergerak dan mengatur strategi.

Berlarian dan berkejaran dengan waktu…

Sungguh luar biasa….

Suatu kenikmatan yang tidak saya dapatkan dari medan perang sebelumnya….

 

Siapapun kamu…

Yakinlah kamu berhak menentukan medan perangmu sendiri…

Tidak peduli apa kata orang banyak…

Jangan pernah merasa takut untuk bergerak….

Karena kita semua adalah Kesatria…

Kesatria harus pantang menyerah dan PEMBERANI…

 

(Stt…apa kamu mau tau apa nama medan perang saya yang baru? PT Mitra Integrasi Informatika)

Love is…

Love is…

Kesekian kalinya saya terlibat dalam masalah comblang-comblangan…dan well…sebenernya profesi ini tidak cukup menyenangkan…
Ketika kita diberikan tugas sebagai jembatan, sekaligus harus menjaga perasaan kedua pihak…
Agar tidak ada yang terluka. Tentu saja saya tidak menginginkan menjadi pihak yang dipersalahkan…
Anehnya, kejadian kali ini benar2 membuat saya jengah…
Siapa yang ingin selalu digosipkan dengan orang yang nyatanya meminta bantuanmu untuk mendekati wanita lain.
Ini sungguh membuat saya ingin berteriak…Hellooooo!!!
Bolehkah saya mengumumkan apa yang terjadi sesungguhnya?

Jawabannya…jelas ada. Namun saya berharap ada pilihan lain. Pilihan dimana saya bisa membela diri…

Saya benar sangat capek dengan urusan seperti ini…
Belum lagi jika ternyata gayung tidak bersambut dan saya berada di posisi yang tidak menguntungkan….

Lalu, saya menarik diri. Ini mungkin tidak adil bagi pihak yang masih mau berusaha….tapi ini juga tidak adil bagi saya…

Saya tidak mungkin terus membangun harapan yang sudah pupus…

Ini semua akan berakhir menyakiti pihak tersebut…dan saya lagi-lagi harus bertanggung jawab untuk itu…

Cinta itu rumit jika melibatkan banyak pihak…
Dan saya harap jika saya suatu hari nanti punya kisah cinta…
Itu antara saya dan dia…
Sederhana…

Siapa dia?Siapa saya?

Siapa dia?Siapa saya?

Sudah 2 tahun saya dan seorang teman tidak pernah bertemu. Dalam benak saya dengan memori yang masih tertinggal tentangnya, dia adalah wanita yang sholeh. Lebih dari sekedar beribadah dengan baik tapi ia juga menjaga dirinya dengan baik. Itu semua terwujud dari cara berpakaiannya yang sangat rapi. Jauh melebihi saya dan mungkin saya tidak sanggup seperti itu sampai saat ini.
Singkat cerita, kami bertemu kembali. Di stasiun kereta.
Seharusnya sudah beberapa kali, sebelum saya akhirnya sadar bahwa dia adalah teman itu.
Dia…..sungguh berbeda.
Membuat saya tidak bisa mengenalinya. Semua yang membekas dalam ingatan saya seperti berantakan dan tak berwujud. Saya terdiam beberapa saat dan mulai bertanya-tanya.
Apa yang terjadi padanya?
Kenapa ia berubah?
Apakah ia tau ia telah bergerak ke arah penurunan “kualitas” yang selama ini sangat saya kagumi?
Dia jauuuuuh…..sangat jauh….dari apa yang saya lihat dari dirinya 2 tahun yang lalu.
Saya kecewa…
mungkin lebih tepatnya sedih…
Apakah dunia kerja yang telah mengubahnya?
Apakah ia sudah melupakan konsep pakaian wanita muslim?

Saya akui, dunia kerja benar-benar tantangan besar bagi muslimah. Terutama bagi yang bekerja di perusahaan multinasional dan bergerak di bidang consulting (no offense loh. Ini hanya curhatan saya saja)
Ketika pertama kali menampakkan diri di lingkungan ‘baru’ itu, saya mengalami kebimbangan yang teramat sangat…
Semua orang berjabat tangan dengan cara yang profesional. Cara yang seharusnya dilakukan dalam konteks bisnis. Saya tertohok…saya merasa bersalah…saat mereka yang berdasi mengulurkan tangan dengan riang dan berubah hambar mendapati saya tidak menjabat tangan mereka dengan baik. Guys, it’s not that i hate you….tapi karena kita bukan muhrim…
Haram bagi saya untuk menyentuh tanganmu…
huff….di saat itulah saya mulai goyah. Mulai tidak konsisten…mulai untuk mencari pembenaran…
Bukankah untuk lelaki yang lebih tua dan kita anggap sebagai orang tua itu tidak masalah?
Siapa bilang????
Saya maju dan mundur…
berputar-putar dan larut dalam pergolakan batin yang tidak kunjung reda…
Kemudian, ketika saya bertemu dengan teman itu. Saya seperti diingatkan bahwa mungkin suatu hari jika saya tidak benar-benar menjaga hidayah yang Allah SWT berikan, mungkin saya akan seperti dia. Berjalan mundur dan mungkin tidak sadar bahwa saya sudah berbelok ke arah yang salah.
Sungguh menakutkan dan saya tidak sanggup membayangkannya…
Saat itu, saya bertekad untuk berusaha dan terus berusaha untuk menjadi muslimah yang baik. Kalaupun tidak lebih baik, saya harus berada di titik yang sama. Tidak boleh mundur…tidak boleh turun ranking…
Siapapun yang mengenal saya, tolong ingatkan saya. Tolong bawa saya kembali jika saya tersesat…

Untuk saya lima tahun yang akan datang saat melihat tulisan ini :
“Bercermin…dan lihat seperti apa sosok yang ada disana dan seperti apa muslimah yang mencintai Allah SWT seharusnya”

~kegalauan di tengah malam seorang wanita pekerja yang susah tidur

Kursi Prioritas untuk Ibu Hamil, Ibu membawa balita, dan Lansia

Kursi Prioritas untuk Ibu Hamil, Ibu membawa balita, dan Lansia

Baiklah…
terlebih dahulu saya perjelas bahwa saya adalah pelanggan angkutan KRL setiap hari. Berhubung sekarang ada kereta khusus wanita saya siaga di gerbong belakang. Sekedar informasi, gerbong depan adalah tempat bersemayam petarung-petarung tangguh yang lihai dalam aksi dorong mendorong sampai gepeng… * kalau begitu saya lebih baik mundur.

Singkat cerita, saya kurang tidur demi menyelesaikan JET yang sukses memporaka-porandakan waktu tidur saya. Begitu duduk di kereta jurusan depok yang akan kembali ke tanah abang, saya langsung tertidur pulas. Posisi saya di pojok dua kursi dari TKP dan sedang asik mangap tanpa suara dengan mata terpejam. Saya bangun ketika seorang ibu setengah berteriak “Ah Jilbab ga menjamin!!!” Kontan saya terperanjat dan buru-buru mengamankan barang-barang saya takut ada maling. Jeng..jeng….saat itulah saya menyaksikan seorang ibu hamil gelantungan di gerbong khusus wanita. Deretan wanita mengenakan jilbab berusaha menyembunyikan wajah mereka di balik kepingan BB atau pura-pura tidur (keliatan gitu matanya gerak-gerak). Si ibu lagi hamil tua dan bener-bener seperti sedang menempelkan baskom di perutnya (berat banget dan capek banget pasti kalo lama berdiri). Saya kontan malu dengan kaum sendiri dan bangkit (huwaaa padahal masih Lenteng Agung!!!!) dan menawarkan kursi saya. Si ibu tampak agak malu dan dia bahkan tidak mengucapkan terima kasih pada saya. Hellloooowww….ini masi Lenteng Agung gitu, gue turun di Sudirman darling!!! Hush…jadi ga ada lagi tuh pahalanya.
so, pelajaran pertama : ternyata kaum ibu-ibu justru tidak lebih memahami kesulitan yang dihadapi kaumnya sendiri.
pelajaran kedua : berterima kasih itu penting!! Haus terima kasih bener ni saya. Tapi bener deh, kamu akan merasa kebaikan kamu sia-sia….(ini curhat orang yang berbuat baik tapi ga ikhlas….Lenteng Agung bro!!!lenteng agung!!!pelit amat ngasi ucapan terima kasih untuk membahagiakan orang)….
case closed….
Saya tidur dulu…

~Semoga besok masi bisa menabung….kali ini harus ikhlas ya, ping ^^
~meskipun tanpa terima kasih….

@Bontang

@Bontang

Saya sudah memasuki dunia kerja. Dunia yang katanya penuh dengan teka teki dan kerumetan yang membuat kita harus berusaha lebih keras. Lebih dari sekedar datang jam setengah sembilan dan hahahihi…
Lebih dari sekedar mengerjakan PR dan menerima nilai. Jauh lebih dari sekedar itu….jauh lebih membuat kita merinding jika mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di belakang kita…

Saya berada di tahun pertama, partisipasi saya di Ersnt & Young. Perusahaan yang “katanya” berkelas dunia dengan sejuta umat dan sejuta “pelanggan”.

Saya seperti dicemplungkan ke dalam kolam. Berusaha untuk mengapung…bergerak…dan mulai mengayuh…
Saya adalah bagian dari orang yang tidak dengan mudah beradaptasi dengan lingkungan orang banyak dan bisa membuat mereka membalas candaan garing saya. Saya hanya bagian dari segelintir orang yang tidak penting…

Tapi…sesungguhnya ada sekian banyak yang bisa saya pelajari. Cara untuk bersosialisasi dalam konteks bisnis, cara menyampaikan pendapat dengan baik, bekerjasama dalam satu tim. Saya dituntut untuk bisa berkerja tangkas sekaligus membina hubungan baik dengan semua pihak. bagin yang di bold adalah bagian terpenting dalam dunia kerja, kawan.

Buat adik-adik yang masi duduk di bangku kuliah, ibaratnya kalian masi berada dalam tahap persiapan perang dan saya sedang dalam medan peperangan. So, siapkanlah senjata kalian dengan baik. Kumpulkan semua persediaan dan pilihlah perisai yang paling kuat.

Saya….dengan segala keegoisan saya. Saya berharap bisa mendapatkan medan perang yang lebih baik. Bukan lebih banyak membuat saya mengucurkan darah, tapi membiarkan saya mengasah pedang dan mengganti perisai saya bila rusak…

Semoga saja….
Saya akan berusaha untuk itu….

내 생일

내 생일

안녕…..

kemaren udah jadi 23.
apa ya?
pokoknya itu deh. zxcz

senang….sdfsd

ada 2 insiden besar yang membuat hari saya kemaren terasa sangat indah. special. berarti…apa lagi ya…
1. jam 12.05 겐타 씨, bawa kado ke kamar.
ceritanya kita lagi belajar bareng buat ujian Korea besok. tiba-tiba dia balik ke kamar dan membawa sesuatu.

jeng..jenk… df

bingkai foto….of course it’s not just like that.
she make it special adding someone special….. hehehehe….

고마워 겐타 씨…
우리 재범 너무 귀여워~~~

2. Honey Family….xc

jadi rencananya mereka mau melakukan sandiwara untuk saya. seperti membuat konspirasi tentang sesuatu yang mengkuatirkan. apalah…
tapi tidak BERHASIL….
sdfsd

singkat cerita, kita makan bareng dan tentu saja KADO. Books….
two books…..
ada Ello….
ada travelling ( 2 juta saja untuk keliling negara tetangga….waaaah )

Terima Kasih ya….cinta….

saya….
si bodoh yang mungkin tidak tau cara memperlakukan seseorang dengan baik, diberikan begitu banyak kasih sayang. makasi yaa…
iren, iis, emny, winda, ides, evi, linda, tina, fisah…..
love you all….

everyday i take a breath….
everyday i look the sky….
everyday i see you all….
but yesterday is everything….

Kangen

Kangen

waaa….sudah lama tidak membereskan blog ini.

apa kabar yang? ( hihihi jadi geli sendiri )

alasan kuat saya menulis disini lagi adalah karena iis madu mengatakan kalau ia menyukai blog saya. ya ampuuun tulisan abal macam begini masih ada yang suka ternyata…onion
tentang saya?

sekarang sudah semester 7. pokoknya semester ini kuliah santai banget. sibuk belajar bahasa korea, sibuk mendownload variety show made in sana. pokoknya bermimpi bisa cas..cis…cus…

dan satu lagi 박재범…. ( jangan tanya-tanya deh )

yang paling penting adalah…SAYA BELUM MENEMUKAN TOPIK TUGAS AKHIR….onion